Selasa, 12 Desember 2017

-- Pengumpul Kebahagiaan --



23.01 PM
December, 12th, 2017

Tak banyak yang bisa diceritakan dari kisah seorang pengumpul kebahagiaan.

Dia percaya bahwa semua akan berjalan seperti novel indah yang dia rangkai dalam pikirannya. Dia percaya pada satu titik kebahagiaannya yang dia yakin kali ini tak akan berlalu begitu saja, setelah kerikil lain yang dia yakini akan menjadi hal terakhir yang akan menggores hatinya.

Hingga, sentilan datang dalam hidupnya, saat sedikit lagi surga dunia yang dia harapkan terwujud.

Allah mengingatkannya akan peran Sang Pencipta yang akan selalu ada disetiap helaan nafasnya. Bahwa tak akan ada kejadian diatas dunia tanpa campur tangan-Nya.

Dia tau hal ini akan menghantam keras hidupnya.

Ia pikir ia takkan bertahan.

Lagi-lagi dia lupa, bukan dia pemilik hatinya, namun Dzat suci yang sangat mencintainya hingga mencemburui hati yang mendua dari-Nya.

Seperti halnya dia pernah tidak mempercayai bagaimana impiannya hilang begitu saja, seperti itu pula dia melihat bagaimana Allah merubah banyak hal dalam dirinya secepat kilat tanpa dia sadari.

Saat dia melihat kebelakang, tak berhenti perasaan kagum menyelimuti hatinya.

Dia berenang saat dirinya berfikir akan tenggelam disana.

Cara pandangnya berubah, hidupnya berubah, begitu pula hatinya.

Dulu dia hanya seorang pencari kebahagiaan dengan banyak sekali rasa takut dalam dirinya.

Dengan kehilangan dia belajar melawan rasa takutnya.

Dengan kehilangan dia belajar apa artinya merelakan.

Dengan kehilangan dia belajar bahwa satu-satunya alasan dia bahagia adalah dirinya sendiri.

Dia belajar.

Belajar bukan berarti tidak pernah salah atau terjatuh.

Belajar berarti dia berulang kali mencoba hingga akhirnya dia mencapai apa yang dia mau.

Dia tidak lagi meyakini beberapa hal, namun hal lain yang lebih kuat tumbuh dalam dirinya yang baru.

Dia percaya akan diri nya sendiri, sesuatu yang dulu seringkali Ia ragukan.

Dia tau pembatas antara tujuan dan kemauannya hanyalah usahanya.

Sekarang dia melihat akan dimana dia berdiri nantinya. 

Dia tidak tau akan seperti apa dia pada hal tertentu, namun dia tau akan menjadi siapa dia beberapa tahun lagi.

Keyakinan yang menyelamatkannya.

Dia.

Aku bangga padanya.


                                                                                                            With love,
                                                                                                                LOV